Thursday, March 31, 2005

Kompos doong


Komposting Sederhana sebagai Solusi Permasalahan Sampah di Bandung
Oleh : Rika Winurdiastri

Leuwigajah, suatu nama daerah di Cimahi ,Jawa Barat,nama yang sering dibahas dalam kehidupan kita sehari –hari, dan sering diangkat menjadi isu di media elektronik maupun media cetak.Bencana longsor yang menelan jiwa manusia di Leuwigajah memang merupakan suatu refleksi ketidakmampuan manusia menghargai lingkungannya. Longsor saja sudah bencana, apalagi ini longsor sampah. Berbagai komentar mengenai terjadinya longsor inipun muncul dari berbagai pihak.

Alangkah baiknya apabila masyarakat berhenti untuk menyalahkan pihak pihak tertentu. Peristiwa ‘bencana persampahan’ yang terjadi bukan hanya di Leuwigajah. Lihat saja Bantargebang, bentrokan di Bojong, dan longsor sampah di Lembang. Apakah kejadian yang sedemikian banyak tidak juga membuat kita belajar dan berkaca tentang paradigma kita tentang sampah? Sebaiknya masyarakat Indonesia mulai mengubah ketertinggalan pola pikir tentang pengelolaan sampah, melepaskan sindrom ‘not in my backyard’ yang sepertinya sudah sejak lahir diderita masyarakat Indonesia.

Manusia memang sejak lahir sampai meninggal akan selalu membuang zat-zat yang tidak lagi diperlukan, yang disebut sampah, baik berupa gas, cairan, maupun padatan. Dengan demikian, sampah itu bersumber dari masyarakat, maka sudah seharusnyalah masyarakat mengurus sampahnya sendiri. Semakin maju budaya suatu masyarakat, semakin banyak san semakin bervariasi barang yang dibuang. Namun semakin banyak jumlah masyarakat, semakin banyak pula lahan yang diperlukan menjadi Tempat Pembuangan Akhir. Pada saatnya masyarakat akan benar-benar mengalami krisis lahan, dan upaya-upaya penanggulangan tidak akan dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan pemerintah. Kita sebagai individu bisa membantu untuk meringankan beban masyarakat. Hal-hal yang bisa dilakukan dalam skala rumah tangga antara lain : membuang sedikit mungkin sampah atau hiduplah sederhana, memelihara barang hingga tidak cepat rusak (memperpanjang umur barang), mempergunakan kembali apapun yang bisa dimanfaatkan, melakukan komposting untuk sampah basah.

Untuk saat ini, di mana TPA tidak lagi dapat menerima sampah, maka sebaiknya tiap individu bisa menata diri agar sampahnya tidak menjadi andil dalam penumpukan sampah di TPS-TPS yang pada akhirnya akan menimbulkan penyakit bagi warga sekitarnya termasuk dirinya sendiri. Usaha 3R (reduce, reuse, recycle) memang sudah banyak didengung-dengungkan.Namun bagaimana dengan sampah basah? Teknologi komposting terdengar sangat sulit dan tidak praktis sehingga masyarakatpun enggan untuk melakukannya.

Tapi kini sudah tidak ada alasan untuk enggan, karena selalu ada cara yang praktis dan inovatif untuk mengatasinya. Seperti halnya yang dilakukan oleh Prof. dr.Juli Soemirat Slamet,MPH,Ph.D, salah satu guru besar Departemen Teknik Lingkungan ITB, yang melakukan teknologi lingkungan tepat guna dalam hal komposting di halaman belakang rumahnya. Caranya sangat praktis, sederhana, tidak berbau, dan tidak mengundang organisme pecinta sampah. Teknik awalnya hanya berangkat dari konsep pemilahan sampah, memisahkan sampah basah dengan yang kering, sehingga yang dibuang hanya kertas, karton, plastik, botol, dan yang pasti akan diterima oleh pemulung. Sampah organik juga dipisah, yaitu yang mudah membusuk(berbau),dan yang lebih lama membusuk. Sampah yang mudah membusuk antara lain ikan, daging, dan makanan yang berbau amis sehingga mengundang lalat. Sedangkan sampah yang tidak mudah berbau antara lain rumput, daun, potongan sayur, buah, dll. Sampah ini tidak mengundang lalat. Hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah menyediakan satu buah karung bekas pembungkus beras. Sampah organik dimasukkan ke dalam karung tersebut, dengan posisi sampah mudah berbau diletakkan di bagian dalam dan sampah yang tidak berbau diletakkan di bagian luar, kemudian karung diikat dan dibiarkan. Sampah yang berada di dalam karung ini hanya disiram setiap hari. Pada saatnya, sampah akan musnah,menjadi kompos yang bentuk fisiknya seperti tanah biasa dan volumenyapun sudah jauh berkurang dari volume awal.

Metoda sederhana ini tidak akan menimbulkan bau karena menggunakan proses aerob, memanfaatkan pori-pori karung sebagai jalan masuknya oksigen. Lalat dan belatung tidak akan tampak dan membuat kita jijik karena makanan yang mereka sukai (daging,dll) tidak dapat dijangkau karena diletakkan di dalam dan ditutup oleh sampah sayuran dan daun. Penyiraman setiap hari dilakukan secukupnya, hanya untuk menjaga kandungan air di dalam kompos, di mana kelembaban adalah salah satu faktor pendukung proses komposting. Kita juga tidak perlu khawatir di mana akan menempatkan karung karung tersebut, karena volumenya kecil dan penyimpanannya tidak memerlukan lahan luas. Tanah hasil kompos yang terbentuk bisa disebarkan di halaman, sebagai penambah nutrisi bagi tanaman di halaman.

Cara ini begitu sederhana dan tepat guna. Apakah kita akan terus menggunakan alasan – alasan pembenaran yang mengada-ada untuk tidak berusaha mengolah sampah kita? Ada baiknya apabila kita mulai untuk mengusulkan kompos sederhana ini kepada pemuka masyarakat terdekat, untuk kemudian ditindaklanjuti dalam bentuk penyuluhan dan demonstrasi bagi masyarakat. Dengan pemberdayaan masyarakat, kita sebagai warga masyarakat Bandung dapat turut andil dan membantu pemerintah dalam mengatasi permasalahan ini. Untuk urusan penyelenggaraan TPA baru dan berbagai studinya , biarlah menjadi tanggung jawab pemerintah dan praktisi yang lebih mengerti. Kita adalah makhluk sosial yang terlibat di berbagai komunitas. Berbagai komunitas ini adalah lahan penyampaian informasi. Warga masyarakat bisa menyampaikan ke RT, siswa sekolah bsia mengusulkan ke guru-gurunya, mahasiswa bisa mengusulkan kepada pihak kampus atau bahkan menjadi pionir dalam pengelolaan sampah kampus, begitupula pegawai kantor, dan seterusnya. Jangan tunggu bencana lagi untuk membuat kita lebih sadar. Jangan menunggu ada longsor di TPS (di mana sampah makin menggunung), jangan menunggu hingga wabah penyakit menyerang kita.

Selama ini opini yang terbentuk adalah ketidakberdayaan korban longsor , dan kesalahan pengelola Tempat Pembuangan Akhir(TPA) dalam mengoperasikan terminal akhir sampah tersebut. Simpatipun muncul menghujani penduduk kampung-kampung yang menjadi terpaan longsor, dan hujatan begitu gencar mengarah kepada pemerintah sehingga menjadikan orang utama di PD Kebersihan menjadi tersangka. Opini ini begitu kencang berkembang di masyarakat, sehingga berbagai pembahasan tentang bencana ini kurang menyinggung tentang sisi lainnya.

Sebelum kita menilai apa yang terjadi, ada baiknya seluruh warga Bandung melihat ke masa lalu, mulai bertanya tentang sejarah TPA Leuwigajah, dan lika-liku dunia pengelolaan sampah yang begitu jauh dari perhatian pemerintah maupun masyarakat. Sudah sejak lama Indonesia memiliki institusi pendidikan dan lembaga-lembaga studi ilmiah yang sudah pasti paham tentang bagaimana sebenarnya TPA yang layak.Kita tidak pernah kekurangan orang berilmu yang tahu bagaimana mengoperasikan sebuah TPA. Tapi masyarakat sudah seharusnya mengetahui bahwa PD Kebersihan tidak menerima anggaran yang mencukupi dari pemerintah , maupun retribusi yang cukup untuk mengelola TPA. Kata ‘sampah’ memang punya kesan negatif dan harus dijauhkan dari kita semua, tapi perlu diketahui bahwa untuk membangun sebuah sanitary landfill, dananya tidak sedikit, apalagi untuk pengoperasian harian yang memerlukan alat berat, pelapis harian, pipa penyalur gas metan, penyalur air limpasan sampah (lindi), instalasi pengolah air lindi, dan lain-lain. Dengan tuntutan pengelolaan yang begitu mahal dan anggaran yang tidak lebih dari 1 % APBD, bagaimana mungkin PD Kebersihan dan pengelola TPA Leuwigajah dapat mengoperasikan ‘tempat sampah’ ini dengan baik.Kalaupun di Indonesia pernah akan dioperasikan sebuah sanitary landfill, ternyata gencar terjadi pencurian pipa metan dan pelapis harian (liner HDPE).Dengan mental masyarakat yang ada saja sudah susah untuk membangun sistem landfill yang baik.

Memang dengan kerugian yang terjadi, harus ada pihak yang bertanggungjawab. Namun apakah tepat jika status tersangka jatuh pada seorang pejabat yang memimpin suatu instansi yang terus merugi karena mengurus sampah yang dibuang masyarakatnya dan tidak pernah mendapatkan alokasi dana yang layak?

Warga sekitar yang menjadi korban memang patut mendapatkan uluran tangan. Namun kita semua harus berkaca, kita semua harus mengetahui bahwa longsor di Leuwigajah tidak terjadi hanya satu kali ini saja melainkan lebih dari 2 kali sebelum bencana kali ini yang akhirnya merenggut nyawa. Seharusnya semua pihak belajar dari kejadian-kejadian tersebut. Menurut pengakuan salah satu keluarga korban dalam sebuah talkshow di televisi swasta, warga enggan pindah karena rasa solidaritas. Jika ada yang pindah, maka semua harus pindah. Dan pada akhirnya warga tetap bersikeras tinggal di lokasi yang memang sudah diprediksikan akan terjadi longsor sampah itu. Sejak bertahun tahun yang lalu pihak DPRD Kota Cimahi dan warga Cilimus serta Cireundeu juga sudah mengkawatirkan dan memprediksikan terjadinya longsor sampah. Jadi, sebenarnya bencana yang terjadi beberapa waktu lalu itu sungguh tidak seharusnya menjadi bencana sebesar ini.

Nasi sudah menjadi bubur. Apakah memang harus terjadi bencana dahulu sebelum manusia sadar dan mengambil tindakan untuk lingkungannya? Kini pemerintah sedang pusing menyelesaikan masalahnya. Alangkah baiknya apabila warga tidak hanya berkomentar dan menuding pihak-pihak tertentu. Sampah kini menumpuk di berbagai pojok kota, dan berpotensi menyebabkan penyakit. Apakah mungkin kondisi ini sebaiknya dibiarkan saja, sehingga dengan cara itu masyarakatpun akan sadar bahwa mereka harus peduli dengan sampah dengan berbuat sesuatu? Mari kita lepaskan sindrom ‘not in my backyard’ yang selama ini menjangkiti kita. Sampah yang kita hasilkan adalah tanggungjawab kita walaupun tidak lagi berada di halaman kita. Biarlah elit pemerintahan berusaha menyelesaikan masalah dengan cara yang bisa mereka lakukan. Sebagai individu, mari kita rubah paradigma masyarakat tentang sampah.Negara kita sudah kalah start dalam hal menghargai lingkungan apalagi persampahan. Dan alangkah bodohnya jika kita masih tidak bisa mengambil hikmah dari bencana ini. Kita bisa bersama sama membantu pemerintah dengan mulai memilah sampah, sebisa mungkin mengurangi produk yang akan menggenerasikan sampah (Reduce), perpanjang umur barang dengan menggunakan kembali (Reuse), dan daur ulang buangan menjadi bahan yang lebih bernilai guna.(Recycle).

Bencana Leuwigajah adalah akibat dari kesalahan paradigma persampahan di Indonesia. Bukan hanya satu pihak yang salah. Ini adalah kesalahan pemerintah yang tidak memberikan alokasi dana yang layak sehingga tidak mungkin untuk membuat suatu TPA yang baik dan layak operasi, kesalahan pemerintah di masa lalu yang menetapkan suatu lereng sebagai lokasi TPA-secara keilmuan tidak dapat dibenarkan-, kesalahan industri yang kurang bertanggungjawab terhadap buangan dari produk yang mereka jual ke masyarakat, kesalahan pengelola sampah yang tidak menetapkan mekanisme pengelolaan yang baik maupun mekanisme pembayaran retribusi, kesalahan masyarakat yang tidak peduli dengan sampah dan menganggap ‘sampah sudah ada yang mengurus’, kesalahan media yang kurang bisa mengoptimalkan bencana ini sebagai sarana bagus untuk pendidikan masyarakat, kesalahan orang-orang yang tidak bermoral mencuri fasilitas-fasilitas persampahan untuk kepentingan pribadi, juga kesalahan warga sekitar TPA yang tidak menjadikan lebih dari 2 kali longsor sebagai peringatan.

Indonesia memang sudah ketinggalan jaman.Mekanisme open dumping seperti yang banyak dilakukan di Indonesia sudah lama ditinggalkan oleh negara-negara lain. Untuk pembelajaran kita bisa belajar dari Jepang, yang mekanisme tiap harinya mengangkut sampah yang berbeda, sehingga secara otomatis sampah terpilah dari sumber, dan masyarakat tergerak untuk memilah supaya sampahnya terangkut oleh pengelola. Bagi industri, tetapkan mekanisme dan penginformasian yang baik sehingga buangan konsumen dapat kembali ke pabrik masing-masing, misalnya baterai bekas dapat diangkut kembali ke produsennya, yang selanjutnya merupakan tanggungjawab produsen untuk mengelolanya. Kejadian pencurian fasilitas persampahan yang akan menghambat pengoperasian TPA yang baik juga harus diatasi, karena ini sebenarnya merupakan kejadian kriminal biasa yang tentu saja seharusnya aparat kepolisian bisa menanganinya. Pendidikan masyarakat juga penting, dan kalangan akademisi sudah harus mulai berpikir untuk memasukkan kurikulum pendidikan lingkungan sejak Sekolah Dasar. Bagi praktisi media, alangkah baiknya apabila mereka memiliki idealisme, menanamkan pendidikan yang mengena dan mendalam sehingga menjadi bagian dari solusi , bukan hanya sekedar kejar tayang atau kejar deadline. Yang paling penting adalah memperbesar anggaran untuk mengelola sampah, mengingat biaya penanganan yang sangat tinggi. Untuk hal yang terakhir ini pemerintah tidak perlu cemas mengeluarkan dana banyak hanya untuk sampah, karena sampah apabila dikelola dengan baik, justru merupakan potensi pendapatan, misalnya melalui daur ulang dan pemanfaatan energi.Apabila seluruh elemen masyarakat berpikir untuk menjadi bagian dari solusi, permasalahan ini akan teratasi. Semoga bencana ini dapat menjadi pembelajaran dan membuka wawasan untuk Indonesia yang lebih baik.

Penulis anggota Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB


3 Comments:

Blogger cupcake said...

Blognya sangat informatif.
Salam,
Santy - IdeBaru.com

7:39 AM  
Blogger Posko Hijau said...

Jalan fikiran yang sistematis bagus. Namun saya sayangkan jika anda tidak punya kelembagaan yang mampu memperbesar energi anda secara berlipat. Nah kami, beberapa asosiasi perusahaan dan dukungan sebuat perusahaan produsen barang terkait lingkungan, telah membentuk forum GDPSK. Kalau berkenan, kami sering adakan diskusi soal sampah....maka dengan ini kami undang ke alamat Jl BKR No 72 BANDUNG, 022-5223618. Salam Hijau..........

7:53 PM  
Blogger runa said...

ass.mbak mbak mahasiswa, bantuin kita dong, kita anak sma yang ingin berkarya dalam ilmiah remaja ( KIR) kita siy disuruhnya biat kompos,,, tapi ada ide lain ga..tlg kirim ke cocomdotcom@gmail.com.makasih

9:31 PM  

Post a Comment

<< Home